Senin, 22 April 2013

Raden Gathutkaca Gugur

RADEN GATHUTKACA GUGUR 

Korawa mengangkat Adipati karna sebagai senopati perang setelah Burisrawa gugur. Hari itu sudah gelap, dan menurut aturan perang, perang dihentikan sementara. Namun tidak tahu mengapa Korawa melanggar aturan itu dan mengirim senopati perangnya malam itu.

Adipati Karna menerabas dan menghancurkan pasukan Pandawa di garda depan. Para penjaga perkemahan tidak mampu menandingi krida sanga Adipati. Berita itu cepat terdengar hingga perkemahan Pandawa Mandalayuda.


Sri Kresna kemudian memanggil Raden Haryo Gatotkaca, raja Pringgodani, putera Raden Bratasena dan Dewi Arimbi. Di sampan Sri kresna, Raden Bratasena (Bimasena) berdiri layaknya gunung memperhatikan dengan seksama apa yang dibicarakan antara Sri kresna dan puteranya.
Kresna : ”Anakku tersayang Gatotkaca….Saat ini Kurawa mengirimkan senopati nya di tengah malam seperti ini. Rasanya hanya kamu ngger yang bisa menandingi senopati Hastina di malam gelap gulita seperti ini”

Gatotkaca : ”Waduh, wo prabu…..terimakasih Wo. Yang saya tunggu – tunggu akhirnya sampai juga kali ini. Wo prabu, sejak hari pertama perang Baratayuda saya menunggu perintah wo prabu untuk maju ke medan perang. Wo prabu Kresna, hamba mohon do’a restu pamit perang. Wo hamba titipkan istri dan anak kami Danurwindo. Hamba berangkat wo, Rama Wrekudara mohon pamit….”

Setelah mendapat perintah dari Sri Kresna, Gatotkaca dalam sekejap tidak terlihat. Sebenarnya, Sri Kresna merasakan bahwa inilah saatnya Gatotkaca mati sebagai pahlawan Pandawa. Namundi atidak mau merusak hati adik-adiknya Pandawa. Namun ia harus mempersiapkan hati Werkudara untuk menerima kenyataan yang mungkin akan memilukannya nanti.

Kresna : “Wrekudoro…“

Werkudara : “Injih, kakang Kresna“ (Injih = iya)

Kresna : “Aku kok agak merasa aneh dengan cara pamitan Gatotkaca, mengapa harus menitipkan istri dan anaknya ??“

Werkudara : “Wah…Kakang seperti anak kecil. Orang berperang itu kalau nggak hidup ya mati. Ya sudah itulah anakku Gatotkaca, dia mengerti tugas dan akibatnya selaku satria.“

Kresna : “Oo..begitu ya, ya sudah kalau begitu. Kita sama – sama doakan mudah-mudahan  yang terbaik yang akan diperoleh anakmu Gatotkaca.“ (Sebenarnya Kresna hanya mengukur kedalaman hati dan kesiapan Werkudara).

Malam semakin larut, namun di angkasa ladang Kurukhsetra kilatan ribuan nyala obor menerangi bawana. Nayal obor ribuan prajurit kedua belah pihak yang saling hantam gada, sabet pedang, lempar tombak dan kelebat kelewang dan juga hujan anak panah.

 
 Gatotkaca mengerahkan semua kemampuannya, dikenakannya Kutang Antakusuma, terompah Basunanda dan dikeluarkannya seluruh tenaga yang dimilikinya. Ia tebang mengangkasa dan sesekali menukik turun menyambar mangsanya. Sekali sambar, puluhan prajurit Hastina tergelepar tanpa daya dengan terpisahnya kepala-kepala mereka dari gembungnya.

Sejak ia lahir, Gatotkaca memang sudah menunjukkan tanda-tand kedigdayaannya. Ari-arinya tidak bisa diputus dengan senjata apapun. Kuku Pancanaka Bimasena  mental, keris Pulanggeni Arjuna tiada arti, dan semua senjata di Amarta sudah dicoba namun tidak ada yang mamou memutuskan tali pusarnya. Para sesepuh Amarta termasuk Sri Kresna sudah kehabisan akal bagaimana menolong Sang jabang bayi Dewi Arimbi.

Raden Arjuna, sang paman kemudian menyingkir sejenak , dan atas saran Sri Kresna, ia menepi untuk meminta petunjuk kepada Yang Maha Esa untuk mengatasi masalah itu. Di kahyangan Suralaya, permintaan Arjuna didengar oleh para Dewa. Bathara Guru kemudian mengutus Bathara Narada untuk memberikan senjata berupa keris Kunta Wijayandanu untuk memotong ari-ari bayi Dewi Arimbi itu.

Bathara Narada turun dengan membawa senjata Kunta untuk diserahkan kepada Arjuna yang saat itu ditemani oleh para punokawan, abdi tersayang. Namun, di tempat lain Adipati Karna juga sedang mengadu kepada ayahnya, Bethara Surya, memohon welas asih agar diberi sebjayta andalan guna menghadapi perang besar nanti. Dewa Surya kemudian menyarankan anaknya untuk merampas senjata Kunta dari Bethara Narada.

Karna dan Arjuna adalah saudara seibu yang wajah dan perawakannya sangat mirip, hanya suaranya saja yang membedakannya. Maka ketika Adipati Karna dirias oleh Dewa Surya menyerupai Arjuna, Bethara Narada tidak bisa lagi membedakan mana Arjuna dan Adipati Karna.

Demi membantu sang putera, Dewa Surya juga mengubah siang yang terik dan terng benderang, tiba-tiba meredup seolah menjelang malam, dan dengan upaya dan rekayasanya, terjadilah gerhana surya. Bethara narada yang sudah tua dengan wajah yang selalu mendongak ke atas itu semakin rabun karena gerhana ini.

Adipati karna kemudian mencegat Bethara Narada dan tanpa rasa curiga, ia memberikan senjata Kunta kepada Arjuna palsu. Karena tugasnya sudah selesai, maka ia berniat untuk kembali ke kahyangan, namun ditemuinya Arjuna lagi yang diiringi para Punokawan. Sadar bahwa dirinya tertipu, ia lalu memerintahkan Arjuna untuk merebut senjata Kunta dari angan Adipati Karna.

Perang tanding antara Arjuna dan Karna pun tidak bisa dihindarkan. Namun, Raden Arjuna hanya berhasil merebut warangka senjata Kunta dari Adipati Karna. Ia kemudian kembali ke Amarta, dan ari-ari jabang bayi Arimbi yang kelak bernama Gatotkaca itu bisa diputus dengan warangka itu. Keanehan pun terjadi ketika sesaat setelah ari-ari jabang bayi diputus, seketika wearangka itu hilang dan menyatu ke dalam perut si jabang bayi.

Sekarang saat perang besar Baratayuda terjadi, sudah takdirnya Senjata Kunta mencari warangkanya di tubuh Raden Gatotkaca. Tidak berarti sesakti apapun Gatotkaca, yang konon berotot kawat, tulang besi dan kesaktiannya kuga ditempa di kawah Candradimuka, namun garis tangan Gatotkaca hanyalah sampai disini.

Di gerbang yang memisahkan antara alam fana dengan alam baka, sukma Kalabendana, paman Gatotkaca yang sangat menyayangi Gatotkaca sudah menunggu untuk sowan ke pengayunan yang Maka Pemberi Hidup. Bahkan, karena begitu sayangnya, Kalabendana tidak akan kembali ke asal kehidupannya jika tidak bersama keponakannya itu.

Di ladang Pertempuran, Karna sudah siap dengan busur panahnya dengan anak panah Kunta Wjayandanu. Dalam hatinya berbisik, “ Anakku cah bagus, belum pupus bekas ari-arimu, berani-beraninya kamu menghdapi awakmu ini. Bukan kamu yang aku tunggu ngger..Arjuna mana? Ya..ya..sma-sama menjalani darma satria, ayo aku antarkan kepergian syahidmu dengan Kunta wijayandanu ini”.

Sementara Gatotkaca, mata elangnya sangat tajam tahu semua gerak-gerik Sang Adipat Karna. Dia tahu riwayatnya, dia tahu bahwa warangka senjata Kunta ada dalam tubuhnya yang selama ini menyokong kekuatannya. Dicobanya untuk mengulur takdir, ia lalu terbang diantara awan-awan gelap yang menggantung tinggi di langit, mencoba menyembunyikan tubuhnya diantara gelapnya awan.

Namun takdir memang tidak bisa dipercepat atau ditunda. Kunta Wijayandanu terlepas dari busur adipati Karna, yang ketepatan dalam mengolah dan mengarahkan panah hamper mendekati sempurana dan hanya Arjuna yang mampu menandinginya. Secepat kilat, Kunta Wiajayndanu melesat ke angkasa. Di angkasa, Kalabendana sudah siaga menunggu tunggangan, dan dengan sigap ia menumpang ke senjata Kunta. Senjata Kunta dan Kalabendana, menghujam ke dada gatotkaca membelah jantung putera kinasih Bratasena itu.

Dalam sekaratnya, Gatotkaca berucap,” Aku mau mati kalau dengan musuh ku…”. Tubuh Gatotkaca jatuh mengarah ke kereta Basukarna. Namun Basukarna bukanlah ksatria biasa, ia secepat kilat melompat dari keretanya. Jasad Gatotkaca menimpa kereta, keretanya hancur lebur, pun dengan delapan kuda dan kusirnya tewas dengan jasad yang tak terbentuk.

Gugurnya Gatotkaca menjadi berita gembira bagi kubu Korawa. Para prajurit bersorak-sorai mengeluk-elukan sang Senopati. Kepercayaan diri mereka berlipat, semangat perang mereke meningkat dan keyakinan diri bertambah akan memenangi perang  akbar ini.

Werkudara : ”Gatot…, jangan kamu yang mati biar aku saja bapakmu…Hmmm Karno…..!!! beranimu hanya dengan anak kemarin sore..Ayo lawanlah Bapaknya ini kalau kamu memang lelaki lawan ayahnya

Prabu Salya Gugur

 
PRABU SALYA GUGUR


Semakin dekat Prabu Puntadewa, semakin berdebar jantung Prabu Salya. Firasatnya mengatakan inilah saat yang ia janjikan. Namun kemudian Prabu Salya teringat kembali akan keberadaan ajiannya yang diturunkan oleh mertuanya, Begawan Bagaspati. Aji Candabirawa.

Sejurus kemudian dipusatkannya segenap rasa dalam pamuja, meloncat dari goa garba ujud mahluk bajang berwajah raksasa. Itulah Aji Candhabhirawa!
“Raden Narasoma, hendak menyuruh apa kepadaku, Raden?!” Tanya Candabirawa.

“Sekali lagi aku meminta kerjamu. Lihat didepanku, dialah musuhku, Prabu Puntadewa. Bunuh dia!” Tanpa membantah, Candabirawa segera berlalu dari hadapan Prabu Salya. Ia kemudian mengamuk sejadi jadinya kearah para prajurit pengawal Prabu Puntadewa. Sementara Prabu Puntadewa sendiri telah  rapat dijaga oleh para prajurit dan Arjuna serta Werkudara. Terkena senjata para prajurit yang terbang bagaikan gerimis yang tercurah dari langit, Candabirawa membelah diri. Menjadi sepuluh, seratus, seribu dan tanpa hitungan lagi yang dapat terlihat. Geger para prajurit Hupalawiya lari salang tunjang melihat kejadian disekelilingnya yang begitu nggegirisi. Kresna segera bertindak menghentikan rangsekan musuh dalam ujud mahluk kerdil yang begitu menyeramkan itu. Perintah Kresna untuk bertindak tanpa melawan amukan Candabirawa disebarkan ke seluruh prajurit yang segera menyingkir.

Ketika serangan berhenti, maka para mahluk kerdil itupun ikut terhenti, saling berpandang dan termangu mangu sejenak. Sebagian lagi larut menjadi semakin sedikit. Tetapi tak lama kemudian mereka bergerak kembali kearah dimana Prabu Puntadewa berada. Ketika sudah dekat jarak antara para manusia kerdil itu, tiba-tiba gerombolan itu berhenti mendadak. Mereka kemudian saling berbisik. “Heh teman temanku semua, kita sudah memperbanyak diri. Tapi begitu aku melihat ke arah Prabu Puntadewa, kelihatan olehku disitu bersemayam sesembahanku yang lama, Begawan Bagaspati. Teman, kita telah lama merasakan lapar dan capek ikut Prabu Salya yang kurang memperhatikan kita, terbawa oleh kesenangan yang ia jalankan sehari hari. Prabu Salya kebanyakan bersuka ria dari pada melakukan olah penyucian diri. Akan lebih baik bila kita ikut kepada sesembahan kita yang lama! Mari kawan semua, kita kembali ke haribaan Begawan Bagaspati”.


Bagai arus bah mengalir, para mahluk kerdil berwajah raksasa segera larut dalam raga Prabu Puntadewa. Peristiwa ajaib yang dilihat Prabu Salya membuatnya jantung Prabu Salya semakin berdebar. Guncang moral Prabu Salya, hingga terasa menyentuh dasar jantungnya yang terdalam. Semakin yakin ia bahwa saat yang djanjikannya telah tiba.

Prabu Puntadewa telah bersiap melepaskan panah dengan pusaka Jamus Kalimasadda yang disangkutkan pada bedhor anak panah. Busur telah terpegang pada tangan kirinya dan terutama ketetapan hati telah diambil. Tak akan menjadi dosa bila Batara Wisnu yang memerintahkan membunuh musuh.

Walau Prabu Puntadewa tidak sesering para saudaranya berolah warastra, tetapi sejatinya ia adalah salah satu murid Sokalima yang tidak jauh kemampuan olah senjata panah dibanding dengan Arjuna. Sebagaimana Arjuna yang mempunyai hati lebih tegar, maka Puntadewa sejatinya adalah pemanah jitu, baik menuju sasaran diam setipis rambut maupun sasaran bergerak secepat burung sikatan. Hatinya yang suci dan cenderung peragu-lah yang membuat ia tidak seterkenal adiknya, Arjuna, dalam olah warastra.



Maka ketika anak panah meluncur dari busurnya, tidaklah ia melakukannya untuk kedua kali. Sekali ia melepaskan anak panah kearah Prabu Salya, maka menancaplah anak panah itu kedada bidang Prabu Salya. Kulit Salya yang kebal terhadap berbagai macam senjata telah terpecah, rebah Prabu Salya!
Sakit di dada Prabu Salya tak terasakan, hanya kepuasan hati yang terasa ketika ia telah menyender di bangkai gajah. Ia telah memenuhi janji terhadap kemenakannya, Nakula dan Sadewa. Janji itu telah terlaksana dengan sempurna. Senyum lemah di bibir Prabu Salya ketika menarik nafas dan menghembuskannya untuk terakhir kalinya.

Seketika perang berhenti. Prabu Punta yang tidak lagi ingin melihat tumpahnya darah segera memberi aba aba kembali ke pakuwon, sedangkan prajurit Kurawa dengan sendirinya telah mundur mencari pembesar yang sekiranya masih bisa menaungi.

Hanya Patih Sengkuni yang merasa telah putus asa telah berbuat nekad. Kenyataan yang begitu pahit seakan tidak dapat diterimanya dengan akal sehatnya. Kurawa seratus dengan bantuan begitu banyak raja seberang, telah tumpas oleh krida Para Pandawa.  Dengan sesumbarnya yang mengesankan sebagai manusia yang telah kehilangan asa, ia gentayangan mengincar kematian Para Pandawa.

Patih Sengkuni adalah seseorang yang sejak kelahirannya telah ditakdirkan membawa watak culas. Kelahirannya ditandai dengan terusirnya seorang dewa dari pusat Kahyangan, Paparjawarna. Dewa yang memang memangku sifat culas yaitu Batara Dwapara. Terusirnya Batara Dwapara itu bersamaan dengan lahirnya Harya Suman, nama kecil dari Sengkuni atau Sakuni.

Putra Prabu Gandara itu telah disusupi oleh Batara Dwapara yang diperbolehkan oleh Sang Hyang Wenang untuk menitis kepada seorang anak manusia yang tertakdir sebagai tukang memanasi suasana. Maka sepanjang hidupnya, ia telah berlaku mengipas segala bentuk bara angkara sekecil apapun menjadi berkobar liar menyambar-nyambar.

Dengan tidak lebih duapuluh Kurawa yang tersisa, Harya Sengkuni mengamuk menarik perhatian Prabu Kresna dan Werkudara yang masih saja siaga menghadapi suasana yang mungkin saja terjadi.

“Werkudara! Lihat Sangkuni mengamuk! Jangan dikira ia yang bertubuh bungkuk dan lemah, dapat kamu kalahkan dengan segenap kekuatan tenagamu. Tetapi sebenarnyalah  ia adalah seorang yang kebal senjata. Tetapi otakmu harus kau gunakan juga. Mungkin kamu dulu sudah ketahui, bahwa ia telah berlumurkan minyak Tala ketika cupu berisi minyak Tala peninggalan orang tuamu Prabu Pandu menjadi rebutan dan jatuh ke sumur dalam. Ketika itu Pendita Kumbayana telah berhasil mengangkat cupu itu, tetapi karena masih jadi rebutan dan minyak Tala itupun tumpah. Sangkuni telah melumuri dirinya dengan minyak Tala dengan bergulingan diatas tumpahan minyak. Tetapi ada yang terlewat, yaitu bagian duburnya. Bagian itulah yang kamu dapat jadikan sasaran awal untuk menyobek kulit dagingnya!”

Melompat Werkudara tidak sabar untuk menyelesaikan tugas di ujung sore itu. Didekati Sangkuni yang terbungkuk bungkuk sesumbar maciya ciya tanpa memperhatikan sekelilingnya. Ilmu kebalnya telah membuat ia bagaikan tak ada yang bisa mengalahkannya. Lengah Arya Suman!

Dan sejumlah Kurawa yang mencoba menghadang menjadi sasaran amukan Werkudara. Mereka bagaikan laron yang masuk kedalam kobaran api. Tumpas Kurawa yang menghadang.

“Hayoh keparat Pandawa! Maju kemari bila masih bernyali melawan Harya Suman . . . . !” Belum habis kata kata Sangkuni, Werkudara telah menyambar tubuh lawannya  yang memang tidak lagi gesit setelah raganya dirusak oleh Patih Gandamana. Patih Astina ketika Prabu Pandu Dewanata bertahta.

Pundak Harya Sangkuni dipegang erat, kemudian diangkat kakinya sehingga ia terbalik. Sejurus kemudian kuku Pancanaka Werkudara telah mendarat di sela sela bokong Sengkuni. Sementara kaki Werkudara telah menahan salah satu kaki Sengkuni yang satu lagi. Belah raga Sengkuni dengan jerit mengiring kematiannya.

“Werkudara, belum cukup kamu menangani raga Sengkuni. Ingat sumpah ibumu, Kunti, ketika ia telah dilecehkan olehnya, sehingga kemben ibumu melorot dan menjadi tontonan dan sorakan orang-orang Kurawa. Ketika itu ibumu bersumpah, tak akan berkemben bila tidak menggunakan kulit dari Patih Sengkuni yang telah mempermalukannya. Kuliti sekalian dinda!”

Senja telah menjelang usai gugurnya sang senapati utama, Prabu Salya. Layung senja oleh terbawa awan mendung melayang menyorotkan cahaya jingga, ketika Dewi Setyawati telah sampai di medan Kurukasetra. Berdua dengan Endang Sugandini, Dewi Satyawati seakan berenang dalam genangan darah. Sebentar sebentar ia membolak balik jenazah yang terkapar, mencari cari jangan jangan jenazah itu adalah sang suami. Sementara mendung makin tebal terkadang seleret petir menyambar menerangi walau sesaat sosok demi sosok  yang ia perkirakan adalah raga Prabu Salya.

Ketika untuk kesekian kali kilat menerangi medan perang itu, Dewi Setyawati tak lagi ragu terhadap sosok yang ia perkirakan sebagai jenazah suaminya. Menjerit Dewi Setyawati memanggil nama suaminya. Dipeluk sosok yang belum lagi kering darah didadanya. “Kanda Prabu, paduka telah meninggalkan hamba. Paduka gugur sebagai tawur perang ini. Walau paduka telah tidak lagi bernyawa, namun sikap tubuh dalam gugur paduka, seakan akan melambai mengajak hamba turut serta”. Sejenak Setyawati menciumi jenazah suaminya yang sudah semakin dingin. Ditetapkannya hatinya untuk menyusul kematian suami tercintanya, “ Marilah kanda, ajakan kanda untuk pergi bersama seperti yang Paduka ucapkan semalam, tak kan kuasa hamba tolak”. Segera diraih cundrik, sejenis keris kecil yang terselip di pinggang Dewi Setyawati, tewas Sang Dewi menyusul kekasih hatinya. Sementara Begawan Bagaspati dengan senyum menjemput dan menggandeng anak dan menantunya menapaki keabadian.

Endang Sugandini yang sama sama mencari jenazah Prabu Salya tak jauh dari Dewi Setyawati segera datang menghampiri, ketika mendengar jerit saudara sekaligus temannya karibnya. Melihat Prabu Salya dan Dewi Setyawati yang keduanya saling berpeluk, terpekik. Tanpa pikir panjang segera ia juga melepas cundrik yang menancap di dada Dewi Setyawati, kemudian menyusul Salya dan Setyawati.

Sepi menguak di Kurukasetra setelah peristiwa itu. Awan mendung yang menggantung telah berubah menjadi hujan yang demikian lebat. Air hujan itu seakan telah mensucikan ketiga raga manusia yang memiliki kesetiaan tanpa cela.